Kesenjangan Digital: Akses vs Kualitas Teknologi

  • Whatsapp
Kesenjangan Digital Akses vs Kualitas Teknologi
Kesenjangan Digital Akses vs Kualitas Teknologi

Pendahuluan: Di Balik Kemajuan Teknologi

Kesenjangan Digital: Akses vs Kualitas Teknologi – Teknologi digital telah berkembang pesat dan menjangkau hampir seluruh aspek kehidupan. Namun, di balik euforia kemajuan ini, terdapat masalah yang semakin mencolok: kesenjangan digital. Banyak orang menganggap kesenjangan ini hanya sebatas pada akses—siapa yang bisa dan tidak bisa terkoneksi dengan internet. Namun kenyataannya, kualitas teknologi yang digunakan juga menjadi faktor utama yang memperparah ketimpangan digital di berbagai lapisan masyarakat.

Artikel ini akan membahas dua sisi utama dari kesenjangan digital: akses terhadap teknologi dan kualitas dari teknologi yang digunakan, serta dampaknya terhadap pendidikan, ekonomi, dan partisipasi sosial.

Bacaan Lainnya

Kesenjangan Digital Akses vs Kualitas Teknologi
Kesenjangan Digital Akses vs Kualitas Teknologi

Apa Itu Kesenjangan Digital?

Kesenjangan digital adalah perbedaan antara individu, kelompok, atau wilayah dalam hal akses, kemampuan, dan manfaat yang diperoleh dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kesenjangan ini bisa berbentuk:

  • Akses fisik terhadap perangkat dan internet

  • Keterampilan digital (digital literacy)

  • Kualitas koneksi dan perangkat yang digunakan

  • Frekuensi serta intensitas pemanfaatan teknologi


Akses: Siapa yang Terhubung, Siapa yang Tertinggal?

🌐 1. Infrastruktur Internet Tidak Merata

Banyak daerah terpencil masih kesulitan mendapat koneksi internet stabil, terutama di negara berkembang. Akses broadband lebih banyak dinikmati masyarakat kota, sementara desa dan pulau kecil masih mengandalkan jaringan 2G atau tidak ada sama sekali.

📶 2. Biaya Akses Masih Tinggi

Meskipun smartphone semakin murah, biaya kuota internet atau langganan Wi-Fi masih tergolong mahal bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah.

👥 3. Masalah Sosial dan Gender

Perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas sering kali mengalami hambatan tambahan dalam mengakses teknologi, baik karena faktor budaya, pendidikan, maupun ekonomi.


Kualitas Teknologi: Bukan Sekadar “Bisa Akses”

Banyak orang kini sudah “terhubung”, tapi kualitas teknologi yang mereka gunakan jauh dari ideal. Ini menciptakan lapisan baru dari kesenjangan digital.

📱 1. Perangkat Usang

Anak yang mengikuti pembelajaran daring dengan HP lama RAM 1 GB tentu tidak setara dengan yang memakai laptop modern. Kualitas perangkat memengaruhi kecepatan, kenyamanan, dan kapasitas belajar.

🐢 2. Koneksi Lemot = Kesempatan Hilang

Video call yang terputus-putus, upload lambat, atau aplikasi error karena koneksi buruk membuat banyak orang tidak maksimal memanfaatkan peluang digital, seperti kelas online atau kerja remote.

🧠 3. Keterampilan Digital Rendah

Kendala bukan hanya teknis, tetapi juga pengetahuan dasar. Banyak pengguna baru tidak tahu cara menggunakan email, membuat presentasi, atau mengamankan akun.


Dampak Kesenjangan Digital dalam Kehidupan Nyata

🎓 Pendidikan

Selama pandemi COVID-19, kesenjangan digital di dunia pendidikan sangat terasa. Siswa yang tidak punya perangkat atau jaringan terpaksa tertinggal dari materi pelajaran. Bahkan setelah pandemi, tantangan ini masih membayangi sistem pembelajaran jarak jauh dan hybrid.

💼 Ekonomi dan Pekerjaan

Pekerjaan digital, freelance online, atau pelatihan keterampilan hanya bisa diakses oleh mereka yang punya perangkat dan koneksi memadai. Artinya, mereka yang sudah tertinggal secara ekonomi jadi makin sulit mengejar ketertinggalan.

🗳️ Partisipasi Sosial dan Informasi

Akses terhadap informasi digital memengaruhi kesadaran politik, berita, dan hak sipil. Jika hanya segelintir kelompok yang mampu menjelajahi ruang digital, maka suara kelompok lain bisa terpinggirkan.


Solusi: Menuju Keadilan Digital yang Seutuhnya

🏗️ 1. Perluasan Infrastruktur Digital

Pemerintah dan swasta perlu bekerja sama membangun jaringan internet yang menjangkau seluruh wilayah, termasuk pelosok dan kawasan terpencil. Program seperti internet desa, wifi publik, dan tower base transceiver baru harus terus digalakkan.

📲 2. Subsidi Perangkat dan Akses

Seperti bantuan kuota internet di masa pandemi, perlu lebih banyak program subsidi perangkat murah untuk pelajar dan keluarga rentan. Inisiatif CSR perusahaan teknologi juga bisa digalakkan untuk penyediaan alat.

🧑‍🏫 3. Pendidikan Literasi Digital

Masyarakat perlu dibekali keterampilan digital dasar, termasuk cara menjaga keamanan online, berpikir kritis terhadap informasi, dan menggunakan alat kolaborasi digital.

🤝 4. Desain Teknologi yang Inklusif

Pengembang aplikasi dan platform perlu mempertimbangkan pengguna dengan keterbatasan perangkat, koneksi lambat, atau kebutuhan khusus. Versi ringan, tampilan ramah pemula, dan fitur offline bisa menjadi solusi sederhana tapi efektif.


Studi Kasus: Kesenjangan Digital di Indonesia

Menurut data BPS dan Kemkominfo, lebih dari 12.000 desa di Indonesia belum memiliki akses internet cepat. Di sisi lain, pengguna aktif media sosial terus meningkat. Artinya, koneksi ada, tapi belum merata dan belum berkualitas.

Sementara itu, pelajar dari keluarga tidak mampu masih harus meminjam HP orang tua untuk belajar online, atau datang ke warung kopi hanya demi sinyal. Di sisi lain, pelajar urban sudah menggunakan iPad untuk membuat presentasi dan mengakses kelas global.

Kondisi ini mencerminkan bahwa akses saja belum cukup — kualitas dan kemampuan menggunakan teknologi juga harus diperhatikan.


Kesimpulan

Kesenjangan digital bukan hanya soal siapa yang bisa online dan siapa yang tidak. Ini juga tentang kualitas teknologi, koneksi, dan keterampilan dalam menggunakannya. Jika tidak ditangani serius, kesenjangan ini bisa memperdalam ketimpangan sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Menuju masa depan digital yang adil, kita harus mengedepankan akses dan kualitas secara bersamaan. Karena konektivitas tanpa kemampuan hanya akan menciptakan keterhubungan yang semu — bukan kemajuan yang nyata.

Pos terkait